Sekda Tapobali: Kita Waspada Tapi Tidak Menjudge Orang Corona

Sekda Tapobali: Kita Waspada Tapi Tidak Menjudge Orang Corona
Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali didampingi Asisten II Kedang Paulus, Kadis Kesehatan Lucia Shandra, Kaidah Kominfo Markus Labi, Kalak BPBD Thomas Tip Des, dan Direktur RSUD Lewoleba dr Bernard Beda memberikan penjelasan kepada wartawan, Rabu, 15 April 2020 di Posko Gugus Tugas.

 

Lembatanews.com – Kewaspadaan terhadap penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Kabupaten Lembata sangat diapresiasi dan didukung penuh oleh pemerintah. Hanya saja, dalam kewaspadaan itu diharapkan masyarakat Lembata tidak serta Merta menjudge orang-orang yang dekat dengan P-1 terjangkit virus Corona.

“Kita waspada tapi tidak mau orang Corona. Kita sama-sama menjaga agar Lembata tetap bersih dari virus Corona,” tegas Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata Paskalis Ola Tapobali dalam jumpa pers di Posko Utama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Lembata, Rabu, 15 April 2020.

Sekda Paskalis Tapobali didampingi Asisten II Sekda Lembata Kedang Paulus, Kepala Dinas Kesehatan dr Lucia Shandra, Kepala Pelaksana BPBD Thomas Tip Des, Kadis Kominfo Markus Labi, dan Direktur RSUD Lewoleba dr Bernard Beda.

Ia menegaskan bahwa hasil pemeriksaan terhadap P-1 masih akan dilanjutkan dengan PCR/Swab setelah rapid test-nya positif. Positif tersebut, tidak serta Merta dikatakan positif Corona karena bisa saja positif terhadap virus lain yang ada di dalam tubuh P-1.

“Hasil rapid test tidak bisa menyatakan seseorang positif atau negative corona. Seseorang baru bisa dinyatakan positif atau negatif corona setelah melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR). Karena itu, lanjutnya, walau hasil rapid test P-1 positif, masyarakat harus tetap tenang dan tidak panik,” tegas Tapobali.

Karena itu, Tapobali mengimbau kepada masyarakat agar jangan panik, namun harus tetap waspada dan taat terhadap arahan dari pemerintah dan mengikuti protokol kesehatan yang ada dalam mencegah penyebaran virus corona.

Ia menjelaskan, sejumlah warga yang diketahui melakukan kontak dengan P-1, saat ini mengalami tekanan psikis karena perlakuan yang mereka terima dari masyarakat sekitar. Bahkan, ada di antara mereka yang ditolak saat hendak berbelanja di kios.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Lembata dr Lucia Sandra menjelaskan, setiap orang yang datang dari zona merah atau daerah yang terpapar corona, wajib melakukan rapid test. “Hasil rapid tes positif, tidak berati yang bersangkutan positif corona. Sebaliknya, jika hasil rapid tes negatif, tidak berarti yang bersangkutan negatif corona,” terangnya..

Untuk memastikan seseorang negatif atau positif corona, lanjutnya, harus melalui tes PCR. Swab harus dilakukan dengan mengambil lendir pada hidung dan tenggorokan.

Karena itu, P-1 yang sebelumnya hasil rapid test positif, selain akan dilakukan rapid test kedua pada 23 April mendatang, namun ia juga harus menjalani PCR/Swab.

Swab terhadap P-1 sejauh ini belum.dilakukan menunggu perlengkapan pengiriman swab yang masih dikirim.dari Kukang dan baru dijemput di Larantuka, Flores Timur pada Kamis 16 April 2020.

Selain menunggu kelengkapan persyaratan firman swab, sebelum dilakukan swab, harus pula dipastikan media transportasi yang akan dipakai mengantar swab ke Surabaya.

Provinsi NTT memang sudah mengikat kontrak dengan maskapai penerbangan Trans Nusa, Lion Air dan Garuda. Hanya saja, saat ini Trans Nusa yang melayani Lewoleba-Kukang sudah tak beroperasi. Sehingga, harus melalui Larantuka atau Maumere, Kabupaten Sikka. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *