Sekelumit Kenangan Hyasintus Tibang Bersama Bupati Yentji Sunur

Sekelumit Kenangan Hyasintus Tibang Bersama Bupati Yentji Sunur
Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dalam salah satu kegiatan kunjungan di Sumba Tengah beberapa waktu lalu.

Lembatanews.com – Kepergian seseorang untuk selamanya, sering membangkitkan memori terpendam saat bersama di kala masih hidup. Demikian halnya, kepergian sang fenomenal, Bupati Lembata dua periode Eliaser Yentji Sunur. Banyak kenangan ketika ia menjabat di periode pertamanya, kala mana ia didemo berjilid-jilid, mulai dari dugaan pembunuhan almarhum Lorens Wadu, hingga dugaan ijazah palsu. Namun semua itu, tak juga menggoyahkan sang fenomenal ini. Ia tak juga berhasil digulingkan. Bahkan, ia semakin kokoh menapaki kepemimpinannya di periode yang kedua. Ia mampu menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang politisi kawakan dengan tampil sebagai jawara dalam kontestasi pilkada Lembata.

Berikut ini redaksi Lembatanews.com atas seizin pemilik akun Facebook Bapak Hyasintus Tibang Burin, menurunkan sekelumit pengalaman bersama almarhum Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur sang fenomenal.

Hiyasintus Tibang menuliskan kisahnya dengan dua kata pertama  “Mohon maaf”.

Ia lalu menulis, Omong agak pribadi khas Lewoleba tentang dan dengan ade Yance Sunur, Bupati Lembata almarhum.

Ia mengisahkan bahwa hubungannya dengan almarhum kadang baik, kadang jelek, bahkan buruk. Namun semua itu soal politik. Tetapi, sesungguhnya, ia mengenal almarhum sebagai seorang adik yang datang meminta, memohon kepadanya untuk menjadi calon bupati Lembata kala itu.

“Dan saya Ketua DPC PDI Perjuangan waktu itu mau. Engkau berpasangan dengan Viktor Mado. Dalam perjalanan pun berdua tidak akur. Yance jalan lain Viktor jalan lain,” kenang Hyasintus.

“Sebenarnya engko tu baik sekali  Yance, hanya engkau kurang dengar orang. Engko kurang dengar apa kata Partai, apa kata Viktor.  Akhirnya pada periode kedua engko tidak dicalonkan lagi dari PDIP karena itu,” tambahnya.

Ia bahkan mengungkap kebiasaan almarhum Yentji Sunur yang suka mendengar bisik-bisik dari orang tertentu yang menyesatkan, dan hal itu pun sudah ia ingatkan ketika masih di PDI Perjuangan. Akan tetapi, tak pernah digubris karena keras kepalanya Yentji yang tidak suka takluk.

Ia bahkan menilai Yentji Sunur sebagai sosok yang kepala batu karena di masa kepemimpinan Ferdi Koda sesam orang PDI Perjuangan yang menjabat Ketua DPRD Lembata kala itu memanggilnya untuk hadiri rapat Dewan pun ia tak pergi.

Dengan logat khas Lewoleba dia bilang, “Saya tidak habis membayangkan kepala batumu sampai engko meninggal ini ka ama. Terlalu le ama Yance,” tulisnya.

Ia juga mengenang bagaimana almarhum Kobus Liwa (mantan anggota DPRD Lembata dari PDIP) melawan Yentji Sunur habis-habisanan karena itu, ia bahkan tak mau mendengar apa kata Partai waktu itu.

“Tetapi saya memilih diam. Saya ikuti semua apa kata orang tentangmu di media sosial. Ada yang puji ada yang kritik habis-habisan, mengata-ngataimu. Saya kadang turut merasa bersalah secara politik, karena apa? Saya Sintus ini yang menerima dan mencalonkanmu jadi bupati waktu itu.
Tapi saya diam. Andai saja saya bersama Kobus menyerangmu sperti Kobus lakukan mungkin saja saya sudah pergi.
Tapi mau omong apa lagi ade..smuanya telah berakhir dengan kepergianmu.
Mari kita saling memaafkan,” kata Hyasintus.

Ia juga mengenang keberadaannya yang mesra ketika diajak makan dan minum bersama-sama. Kala itu, Yentji Sunur mengajaknya makan di lantai 7 restoran Korea atau Jepang. “Saya kaget karena sajiannya meluluh ikan mentah dengan berbagai varian. Ade ajar saya makan dengan terlebih dahulu dicampuri serba bumbu. Makan di rujab dengan seorang Bupati itu suatu kebanggaan. Tapi makan pun biasa saja,” kenangnya.

“Engko suka makan ikan temi (tembang berminyak) tapi harus makan masih panas-panas dan harus dengan air limo nipis dan lombok. Kebiasaan itu saya bawa ke rumah dan saya bilang, pak Bupati suka makan temi panas-panas, selesai diangkat dari kuali langsung sikat, toto dengan limo nipis berlombok tinggi”.

Di suatu kesempatan makan malam, kenang Hyasintus, waktu itu Korpus, almarhum juga ada, Y.C.Pati Lajar yang diajak makan lobo. Saat itu mereka tidak mau. Lalu almarhum  berbisik, “mereka b…h, ini makanan raja-raja dulu, kaka tua (sapaan akrabmu untukku)”. Demikian juga sejenis siput besar yang kalau  perlu makan baru digoreng. Itu juga ia bisik, “jenis siput ini makanan raja-raja dulu.”

Ia juga mengenang saat memasuki suksesi periode kedua. Kala itu, bersama almarhum dan Kopertino bertiga mereka menikmati jagung muda goreng bersama. “Satu piring saja dan bertiga, Yance, Sintus dan Kopertino rau dari piring yang sama itu dengan tambo siput raja-raja itu yang digoreng,” kenangnya.

Selepas itu, ia tak lagi mendukungnya, karena dukungan dialihkan untuk Herman Wutun-Fian Burin.

“Karena itu kuat dugaan saya jalan ke Puor engko tidak urus karena persoalan orang Puor dan sebagian besar dari selatan tidak pilih engko ama. Engko hukum kami sampe engko mati ini ama. Kami semua yang kena hukuman masih hidup ini ade, jo engko mati duluan Ama,” tulisnya.

Dalam.bidamg penegakan disiplin ASN pun tak luput dari perhatiannya. Ia melihat ada yang tidak adil, karena ada yang dikenai disiplin ada yang tidak dikenai disiplin. Dengan kepergian Yentji Sunur, ia berharap banyak pada Thomas Ola yang akan melanjutkan tampuk kekuasaan ini. Memang waktu tersisa sedikit saja tetapi ia sangat yakin akan ada perbaikan yang dasyat hal mana tidak pernah dihitung oleh siapapun kecuali oleh perancang-Nya.

“Saya yakin ama Thomas Langoday Wakil Bupati sekarang punya banyak catatan tentang orang ini, pegawe ini dan itu yang punya tipe dan karakter tersendiri. Pak Wakil pasti punya catatan-catatan dari pengamatannya selama ini, tentang kasus ini, kasus itu dan lain sebagainya.
Ama Thomas akan menyelesaikan sisa waktu ini sebagai Bupati Lembata,” katanya.

“Atas nama pribadi dan seluruh keluarga saya menyampaikan permohonan maaf  kepada ade Yance sekaligus Bupati Lembata atas hal yang mungkin kurang berkenaan. Saya koreksi diri bahwa saya sama sekali tidak membencimu secar pribadi, hanya dalam kapasitasmu sebagai bupati itulah kadang kita tak searah dan sejalan lalu muncul kritik-kritik. Dan itu hal biasa. Doa kami semua mengiringi perjalananmu ke rumah abadi adeku. Bertemulah Yakobus dan Korpus, dua orang yang pertama-tama ade pakai jasa mereka berdua dan sukses mempengaruhi PAC  menggolkanmu jadi calon Bupati waktu itu dan menang terhadap lawan beratmu Herman Loli Wutun,” itulah kata akhir sambil mengucapkan Selamat jalan  Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur.
Terima kasih. RIP.

Sementara itu, Ketua DPRD Lembata Petrus Gero saat dihubungi Lembatanews.comenyampaikan rasa dukanya yang mendalam.

“Mendengar Berita duka itu, kami keluarga besar DPRD Kabupaten Lembata dan Partai Golkar Lembata merasakan dukacita yang mendalam atas berpulangnya Pak Yance Sunur Bupati Lembata dan Ketua DPD II Partai Golkar Lembata. Kami sangat merasa kehilangan figur yang baik hati yang telah banyak berbuat membangun tanah Lembata hampir 10 tahun ini. Semoga arwahnya mendapat tempat Abadi di dalam Surga. Dan semoga keluarga yang ditingalkan memperoleh penghiburan dan ketabahan,” kata Petrus Gero. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *