Sempat Mau Dikuburkan dengan Protokol Kesehatan, Keluarga Akhirnya Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19

Sempat Mau Dikuburkan dengan Protokol Kesehatan, Keluarga Akhirnya Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19
Keluarga almarhumah mengambil paksa jenazah pasien Covid-19 asal Luki, Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni, mengambil paksa jenazah dari mobil qmbulqn RSUD Lewoleba, Sabtu, 30 Januari 2021.

 

Lembatanews.com – Kematian pasien terkonfirmasi positif Covid-19 kembali terjadi di Kabupaten Lembata. Kematian yang keempat di Lembata ini hanya berselang satu hari dari kematian almarhumah VT (76) asal Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur.

Jika pada kematian ketiga keluarga walau belum menerima surat resmi vonis terkonfirmasi positif Covid-19, namun keluarga masih bersedia dikuburkan dengan protokol kesehatan. Namun dalam kematian keempat yang menimpa seorang ibu dari Luki, Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni pada Sabtu, 30 Januari 2021, keluarga yang tak mendapatkan keterangan resmi soal pasien terkonfirmasi positif Covid-19 akhirnya mengambil paksa jenazah dari mobil ambulans dan membawanya pulang.

Aparat kepolisian dari Polres Lembata yang sempat menghalangi pun tak digubris. Sedangkan petugas penguburan yang sudah mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap pun tak bisa berbuat banyak. Pihak keluarga yang hanya mengandalkan masker pun tetap mengambil paksa jenazah dari mobil ambulans dan membawa jasad almarhumah ke rumah keluarga di Wangatoa bawah, Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, untuk kemudahan mengantar almarhumah ke Luki, Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni.

Suami almarhumah Muhamad Aba Gaus, mengatakan, istrinya sempat dirawat inap di Puskesmas Wulandoni pada Selasa, 26 Januari 2021 karena sakit pada bagian belakang. Selanjutnya pada Kamis, 28 Januari 2021, dokter Puskesmas Wulandoni memperbolehkannya pulang ke rumah.

Namun, pada Jumat, 29 Januari 2021 dia kembali mengeluh sakit, sehingga kembali masuk rawat inap di Puskesmas Wulandoni.

Malamnya, sekitar pukul 19.00 dirujuk ke RSUD Lewoleba. Karena kondisi jalan yang rusak parah, mobil yang mengantar baru tiba di RSUD Lewoleba pada pukul 04.00.

“Di rumah sakit petugas medis langsung mengambil tindakan,” terangnya.

Aba Gaus menjelaskan, hasil diganosa dokter serta hasil pemeriksaan laboratorium Puskesmas Wulandoni menyatakan bahwa istrinya menderita penyakit lambung, kolesterol, asam urat, dan HB rendah. Sedangkan hasil pemeriksaan medis di RSUD Lembata, almarhumah divonis menderita gula darah dan Covid-19.

“Kami ambil jenazah karena ada perbedaan hasil lab dari Puskesmas Wulandoni dan di RSUD. Keluarga merasa ada keganjilan sehingga terpaksa kami ambil alih penguburan jenazah” tegas Aba Gaus.

Sementara itu, Direktur RSUD Lewoleba dr Bernard Beda pada Minggu, 31 Januari 2021 kepada wartawan menjelaskan, dalam penanganan pasien rujukan dari Puskesmas Wulandoni, petugas sudah melakukan penanganan sesuai SOP.

Saat tiba di rumah sakit, lanjut dr Bernard, petugas melakukan rapid test dan hasilnya reaktif. Hasilnya juga sudah disampaikan kepada suami dan anak almarhumah. Namun, semula keluarga tidak terima dengan penyampaian petugas.

“Tapi setelah dokter jaga jelaskan dan dilakukan pendekatan, akhirnya keluarga mau terima penjelasan dokter,” kata Bernard.

Kepada pihak keluarga, petugas juga menjelaskan bahwa tidak sebatas dilakukan pemeriksaan rapid test, tetapi untuk mendapatkan kepastian, akan dilakukan tes cepat molekular (TCM). Sehingga, selanjutnya dilakukan swab test TCM dan hasilnya positif.

“Setelah hasil positif, dokter jaga sampaikan ke keluarga dan waktu itu disampaikan kepada suami dan anaknya dan mereka terima,” terangnya.

Namun, lanjutnya, akhirnya pasieni meninggal dan oleh keluarga mau dibawa pulang. Karena itu, petugaspun melaporkan kepadanya dan disampaikan bahwa karena sudah positif Covid-19 maka harus ditangani dengan protokol kesehatan.

Sehingga, terangnya, petugas kemudian melakukan persiapqn dan proses administrasi. Dokter lalu memberikan surat keterangan kematian dilampirkan dengan print out hasil pemeriksaan. Namun, dalam proses pembuatan surat dan saat diantar ke dokter ahli untuk ditandatangani, terjadi keributan di UGD dan akhirnya keluarga mengambil paksa jenazah.

Ia juga menjelaskan, saat pemindahan ke ruang pemulsaran jenazah untuk dimandikan, ada ustad sehingga disampaikan bahwa setelah dimandikan langsung didoakan oleh ustad dengan APD lengkap, tetapi tak boleh diikuti banyak orang.

“Ustad juga sudah yerima. Dan ustad juga kaget saat keluarga ambil paksa bawa pulang jenazah. Kita juga bertanya kenapa tadi suami dan anaknya terima, kaget dibawa pulang,” kata Bernard.

Terhadap sejumlah kejadian penanganan pasien Covid-19 yang meninggal, ia sudah melaporkan kepada Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali dan meminta agar segera dilakukan evaluasi. Evaluasi, kata dia, dimaksudkan agar setiap bidang dalam Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Lembata bisa melaksanakan tugas masing-masing dengan baik. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *