Serono dan Serani Pembawa Nale di Pantai Watan Raja Mingar

Serono dan Serani Pembawa Nale di Pantai Watan Raja Mingar
Ritual di kuburan Belawa di pantai Watan Raja, Mingar, Desa Pasir Putih, Sabtu, 15 Februari 2020 sebagai rangkaian acara guti Nale.

 

Lembatanews.com – Duli Gere……. Duli Gere…….. Teriakan pertama muncul dari petugas pemantau Nale diikuti teriakan ratusan warga yang sudah menanti sejak sore di sepanjang Pantai Watan Raja, Mingar, Desa Pasir Putih, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata. Serentak merekapun menyerbu kolam-kolam air laut yang sedang surut jauh. Dengan perlengkapan wadah dari anyaman daun lontar yang sudah dipasangi tali dari tukang daun lontar tergantung di leher, mereka mulai memasukan Nale semacam cacing laut aneka jenis warna itu ke dalam bakul atau wadah dari daun lontar itu. Walau terus dimasukkan ke dalam bakul kecil, namun Nale seakan tak habis-habisnya. Ia terus bermunculan membuat warga yang memungutnya pun kian bersemangat.

Agar tak tumpah, saat mengambil nale, kalau sudah cukup banyak Nale yang ada di dalam bakul yang digantung di leher, mereka memindahkan Nale ke bakul lebih besar yang diletakan di darat. Setelah itu mereka kembali masuk kolam untuk memungut Nale yang masih terus bermunculan.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langodai dan Ketua DPRD Lembata Petrus Gero ikut menyaksikan ritual di kuburan Belawa di Pantai Watan Raja.

 

Selama hampir lebih kurang dua jam mengumpulkan Nale, perlahan warga mulai keluar dari kolam-kolam air laut itu. Membereskan dan menggabungkan Nale hasil tangkapan keluarga atau kerabat dan bergegas pulang beramai-ramai.

Suasana pantai yang biasanya sepi, tampak begitu ramai sore itu. Tak hanya warga Mingar, Desa Pasir Putih saja ya g turun ke laut, namun juga warga Mingar yang selama ini berdiam di desa-desa lain, termasuk yang tinggal di Lewoleba pun berdatangan di saat prosesi penangkapan Nale yang terlebih dahulu diawali dengan ritual memberi makan leluhur.

Serono dan Serani merupakan dua orang penting yang dipercaya membawa Nale untuk masyarakat Mingar. Keduanya datang dari Duli yang menurut kepercayaan masyarakat setempat adalah alam di bawah laut. Kedua laki-laki ini bersitrika.Serupu dan Serape.

Warga memegang obor dari daun lontar dan bakul dari anyaman daun lontar yang digantung di leher sedang memungut Nale di kolam air saat air laut sedang surut.

 

Serono dan Serani pertama kali ditemukan Belawa dan Belake yang adalah masyarakat asli Mingar saat pulang melaut dan mengambil blutu. Saat hendak pulang, mereka mendengar anjing menggonggong dan setelah keduanya mencari, ternyata menemukan Serono dan Serani.

Serono dan Serani mengaku datang membawa Nale untuk masyarakat Mingar.

Nale yang diberikan atau dibawah oleh Serono dan Serani itu dipercaya masyarakat sebagai rejeki dan berkat yang terus diambil warga hingga saat ini setiap akhir bulan Februari atau awal bulan Maret

Sebelum mengambil nale, warga terlebih dahulu menggelar ritual memberi makan leluhur atau para penjasa yang telah membawa dan menemukan Nale untikmpertama kalinya. Ritual adat memberi makan leluhur pembawa rejeki Nale ini dilaksanakan oleh dua suku yakni Atakabelen dan Ketupapa.

Pada Sabtu, 15 Februari 2020, ritual memberi makan leluhur ini kembali digelar. Ritual digelar di tiga tempat berbeda, untuk menghormati para tokoh penting terkait Nale. Di tempat pertama di

Dalam ritual adat ini, ada dua suku yang mengambil peran penting memberi makan leluhur yang berjasa mengantarkan Nale untuk masyarakat Mingarada lima tokoh penting yang berkaitan dengan Nale

Ritual pertama dilakukan di Duang Waitobi atau Koker Nale dengan memberi  nasi dari beras hitam dan isi hati perut ayam ditambah tuak putih.  Tempat yang dikenal warga setempat sebagai rumah tempat tinggal Serupu dan Serepe, Istri dari Serona dan Serani. Di tempat ini, ritual dipimpin tua adat dari Suku Ketupapa yakni Andreas Puri Papang.

Selesai menggelar ritual di Duang Waitobi, dilanjutkan dengan ritual di Duli Ulu yakni tempat bersemayam tengkorak Serona dan Serani, yang merupakan sosok misterius dari Duli yang dipercaya merupakan alam di bawah laut.

Dalam ritual memberi.makan di tempat Serono dan Serani ini dipimpin suku Atakabelen yakni oleh Paulus Pati Kabelen sebagai tuan tanah didampingi Andreas Puri Papang dari Suku Ketupapa.

Usai memberi makan dan mengucapkan syair atau tutur bahasa adat dalam.bahasa setempat ritual kemudian dilanjutkan di Pantai Watan Raja tempat bersemayam Belawa yang sebelum meninggal minta untuk dikuburkan di Pantai Watan Raja, tempat pertama kali ia berjumpa dengan Seribu dan Serani yang membawa Nale untuk orang Mingar.

Di tempat ini, ritual dipimpin oleh Paulus Pati Kabelen dari suku Atakabelen. Ia meletakan makanan berupa beras hitam dan hati ayam di atas batu yang ada di atas kuburan Belawa dan mengucapkan syair adat dalam bahasa Mingar.

Ia mengatakan, kalau ritual yang dilakukan itu ada kesalahan maka cecak akan berbunyi. Tapi kalau ritual yang dilakukan sejak di Duang Waitobi,Dulu Ukuran dan di Watan Raja semuanya sudah berjalan sesuai adat maka cecak tidak akan berbunyi. Setelah menunggu sekitar 10 menit tidak ada cecak yang berbunyi Andreas Pati Kabelen pun mengatakan bahwa ritualnya sudah berjalan baik dan itu pertanda bahwa Nale akan muncul malam nanti.

Setelah serangkaian adat selesai, masyarakat lalu berbaur dengan para undangan lainnya sambil mempersiapkan diri menyambut rejeki Nale yang diberikan leluhur suku pemilik Nale Atakabelen dan Ketupapa. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *