Siapkan Lahan Relokasi, Warga Lewota’a Tunggu Sikap Pemkab Lembata

Siapkan Lahan Relokasi, Warga Lewota'a Tunggu Sikap Pemkab Lembata
Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai NasDem Aleksander Take Ofong saat berbicara di hadapan masyarakat dalam reses di Dusun Lewota’a, Desa Seranggorang, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Senin, 18 Oktober 2021.

 

Lembatanews.com – Bencana badai Seroja yang menerjang Lembata pada April lalu, masih meninggalkan sejumlah permasalahan. Salah satunya adalah penanganan relokasi bagi warga Lewota’a, Desa Seranggorang, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata. Warga korban bencana di Dusun Lewota’a sudah siap direlokasi ke Kampung Baru. Sayangnya, hingga kini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata belum memberikan perhatian serius dalam penanganan relokasi warga.

Hal itu mengemuka saat reses anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai NasDem Aleksander Take Ofong di Dusun Lewota’a, Desa Seranggorang, Kecamatan Lebatukan, Senin, 18 Oktober 2021.

Severinus Laga, warga Dusun Lewota’a, Desa Seranggorang dalam dialog saat reses mengatakan, badai Seroja yang menimpa warga Lewota’a menyebabkan sepuluh rumah rusak. Namun, sampai saat ini, Pemkab Lembata lamban memberikan penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca badai Seroja terhadap warga korban bencana.

Ia mengakui, warga di Lewota’a sudah bersikap untuk relokasi karena kondisi di Lewota’a sudah tak memungkinkan lagi untuk didiami dan rumah sudah tak bisa lagi dibangun di kampung lama itu.

Karena itu, warga korban bencana sudah bersedia direlokasi ke Kampung Baru dan lokasinya sudah disiapkan. Pemkab Lembata juga sudah setuju memindahkan warga ke Kampung Baru. Lokasi ya pun sudah ditinjau dan layak. Namun hingga kini belum ada penanganan lebih lanjut.

“Kami diminta agar kampung ini direlokasi. kami diminta menyiapkan lokasi Kampung Baru tapi belum ada kejelasan. Tim dari kabupaten juga telah melakukan survei,” kata Severinus Laga.

Selain masalah penanganan pasca bencana, ia juga meminta dukungan dalam pembangunan Gereja Stasi Santu Wilhelmus Lewota’a, di Desa Seranggorang.

Sementara, Elisabeth meminta dukungan percepatan sertifikasi prona agar tidak terjadi perampasan tanah masyarakat desa setempat.

Saat ini, lanjutnya, adanya perampasan tanah masyarakat. Sertifikasi prona yang telah dijalankan Pemerintah Pusat namun hingga saat ini masyarakat belum memiliki sertifikat. Ia meminta dukungan dan perjuangan anggota DPRD NTT Alex Ofong untuk membantu masyarakat bisa memiliki sertifikat agar tanah tak lagi dirampas dan menimbulkan konflik di masyarakat.

Sementara Juliana Tuto meminta bantuan generator set (genset) 10 KV untuk membantu menyedot air dari sumur bor yang sudah dibangun saat ini. Sebab, menggunakan panel surya selama ini belum maksimal. Akibatnya, pendistribusian air ke rumah penduduk terhambat.

“Kami minta bantuan dan dukungan berupa diesel pembangkit agar bisa menyedot air dari sumur bor untuk distribusikan ke rumah masyarakat,” harapnya.

Anggota DPRD NTT Aleksander Take Ofong menjawab sejumlah keluhan warga mengatakan, badai seroja melanda seluruh wilayah NTT.

“Waktu itu Gubernur didesak keluarkan status bencana bahkan bencana nasional. Tapi Pak Gubernur bilang yang penting perlakuannya dan ditunjukkan dengan menghadirkan seluruh kekuatan pusat dari presiden hingga para menteri turun dengan sekian banyak bantuan dan janji dan itu perlakuan bencana nasional walaupun statusnya bukan bencana nasional. Perlakuan bencana nasional tanpa status bencana nasional dan dijanjikan semua korban dibantu saat emergensi dan pasca emergensi,” kata Aleks Ofong.

Sebab, jika harus dinyatakan sebagai bencana nasional, maka membutuhkan waktu penanganan. Sebab, selama belum dicabut status bencana nasional, orang belum datang ke NTT.

Presiden, lanjutnya, saat turun langsung memantau bencana bersama para menteri terkait, menjanjikan semua warga terdampak akan dibantu baik emergency maupun pasca bencana, termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi, mitigasi, dan pembangunan rumah.

Karena itu, ia berjanji akan berkoordinasi dengan Pemkab Lembata guna mengecek penanganan lebih lanjut

Pemerintah provinsi, lanjutnya, memberikan respons yang cepat pada saat bencana dengan merefocusing anggaran sebesar Rp48 miliar untuk penanganan bencana Seroja.

“Dalam pandangan umum fraksi partai Nasdem provinsi NTT baru-baru ini kami juga mempertanyakan bagaimana persiapan pemerintah kabupaten, provinsi dan Pusat dalam mengkonsolidasikan data-data bencana yang menurut informasi bahwa hingga saat ini belum terdata secara baik,” ungkapnya

Menurut Alex Ofong, Karena masih banyak korban yang belum tersentuh, Dewan tentu berharap agar semua masyarakat terbantu secara proporsional. Bantuan untuk yang rusak berat, sedang, dan ringan pastinya mendapat bantuan berbeda. Dan bantuan itu harus sampai pada rehabilitasi penghidupan mereka supaya mereka kembali kepada penghidupan yang mandiri. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *