Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Korban Penganiayaan Dilapor Lakukan Persetubuhan di Bawah Umur

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Korban Penganiayaan Dilapor Lakukan Persetubuhan di Bawah Umur

Emanuel Belida Wahon dari Kantor Advokat Emanuel Belida Wahon & Rekan, penasehat hukum korban persetubuhan di bawah umur

Lembatanews.com – Nasib malang seakan tak mau beranjak dari korban penganiayaan anak di bawah umur MRS (17). Setelah sebelumnya pada 28 November 2019 malam ia dianiaya oleh oknum ASN di lingkup Setda Kabupaten Lembata dan istrinya yang kini sedang ditangani Unit PPA Polres Lembata, pada Rabu (4 Desember 2019) siang tadi ia malah kembali menemui masalah berat. Keluarga oknum ASN pelaku penganiayaan melaporkan balik dirinya dengan tuduhan melakukan dugaan persetubuhan di bawah umur dengan korban anak pasangan oknum ASN pelaku penganiayaan berinisial SA (15).

Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, itulah nasib naas yang kini tengah menimpa RMS, remaja pelajar kelas X SMA ini.

Laporan dibuat oleh ibu korban yang datang ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Lembata pada Rabu (4/12) didampingi penasehat hukumnya Emanuel Belida Wahon dan Gaspar Sio Apelaby dari Kantor Advokat Emanuel Belida Wahon & Rekan.

Emanuel Belida Wahon usai mendampingi kliennnya membenarkan laporan yang dibuat terkait dugaan persetubuhan anak di bawah umur yang menimpa putri sematawayang oknum ASN di Setda Lembata, pelaku penganiayaan anak di bawah umur.

Atas permintaan keluarga besar Wulakada dan Bethan ia mendampingi anak korban SA (15) guna mengadukan hal ini ke Polres Lembata. Ia juga telah mendapatkan surat mandat dari ibu korban.

Ia juga merinci kronologi peristiwa yang menimpa anak kliennya itu. Dia.menjelaskan, kejadian persetubuhan di bawah umur pertama kali diketahui oleh ibu kandung korban pada 25 November 2019 lalu, setelah ditanyai secara tertutup oleh ibu kandung dan tantenya. Korban kepada ibu kandung dan tantenya mengakui bahwa ia berpacaran dengan MRS (17) dan telah melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

“Hubungan badan tersebut dilakukan di rumah orangtua korban di Lamahora Barat. Korban SA mengaku awalnya ia tidak mau dan takut pada kedua orangtuanya. Namun, MRS (17) terus membujuk dan memaksakan kehendaknya hingga kejadian persetubuhan itu terjadi,” terang Wahon.

Gaspar Sio Apelaby, anggota tim penasihat hukum dari Kantor Advokat Emanuel Belida Wahon & Rekan menambahkan, setelah melaporkan kasus itu, pihaknya akan intens mengawalnya hingga tuntas.

Ia mengatakan, persoalan yang ditangani menyentuh soal harga diri perempuan.

“Kita bisa membayangkan jikalau hal ini menimpa anak perempuan kita atau saudari kita, tentu kita akan terpukul dan bisa saja akan mengambil sikap yang tidak diinginkan karena situasi batin kita yang sama sekali tidak menentu karena merasa telah dilecehkan dan di rendahkan harga diri dan martabat anak atau adik perempuan kita,” tegas Apelaby. (tim lembatanews)

1 Komentar


  1. Mantap beritanx :
    Kira2 solusi terbaiknx apa ya…??šŸ˜…šŸ˜…šŸ˜…

    Kalau sy telusuri dr berita tersbut di atas ‘ ternyata ada masalah lain yg menyebabkan terjadi penganiayaan’šŸ‚

    Kalau masalah hubungan badan anak di bwh umur oto mAstis melanggar aturan hukum di negeri ini
    NAMUN apakah hubungan tersbut di lakukan suka sama suka ‘
    atau …??

    Andaikan mereka berpacaran berarti mereka melakukan hubungan tersbut suka sama suka to…??
    Tidak mungkin laki2 tersbut melakukan pemerkosaan…

    Kalau begitu solusi terbaiknx apa ya..??
    šŸ˜ƒšŸ˜ƒšŸ˜ƒ urus ke dalam pendekatan org TUA kedua belah pihak’
    Dan anak2 ttb melanjutkan sekolah sprti biasa ‘
    Sampai tamat #kulia ‘
    @Muda2hn org tua kedua belah pihak Dpt mengambil keputusan yg tepat..

    Muda2hn ini pembelajaran buat kita semua agar kejadian tersbut tidak terulang kembali…
    THNKZ LEMBATANEWS. COM.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *