Suku Brewu Making, Penjaga Laut Desa Lamawolo-Ile Ape Timur

Suku Brewu Making, Penjaga Laut Desa Lamawolo-Ile Ape Timur

Oleh Bosco ZQ Ritan

Salah satu suku yang hidup dan menetap di wilayah Lamawolo yakni suku Berewumaking. Suku ini merupakan suku pendatang dari wilayah Seran-Goran (Ambon).

Bertolak dari Ambon, Nenek Moyang suku Berewumaking kemudian singgah terlebih dahulu di munaseli (Alor), karena beberapa hal mereka akhirnya pindah ke Sagu-Adonara. Tinggal dan berdiam beberapa saat di wilayah Sagu, suku ini kemudian hijrah ke wilayah Waiwuring. Ketika Hijrah ke tempat tersebut, terdapat penolakan dari masyarakat setempat, dan akhirnya Nenek Moyang suku Berewu Making memutuskan untuk mencari wilayah lain untuk bermukim. Dengan sebuah kapal, akhirnya kelompok ini berlayar ke wilayah Pulau Lomblen (Lembata) namun ketika tiba di wilayah Lepanbatan , Kapal mereka hancur akibat terjangan ombak, sehingga kelompok besar suku ini akhirnya terpecah menjadi beberapa kelompok kecil dan mulai berpencar untuk mencari wilayah huniannya masing-masing. Sebagian memutuskan untuk menetap di wilayah Kedang dan beberapa wilayah sekitarnya. Sebagian lagi memutuskan untuk menggunakan perahu-perahu kecil berlayar menuju Teluk Waienga (Hadakewa).

Kelompok suku Berewumaking yang menggunakan perahu-perahu kecil tersebut, akhirnya berlabuh di Tanjung Lagadoni. Bermukim di daerah tersebut bukanlah hal yang mudah. Sumber air untuk memenuhi kebutuhan hidup kelompok ini menjadi persoalan yang pelik dan menjadi tuntutan utama untuk segera dipenuhi. Waktupun terus berlalu. Anggota-anggota suku dikerahkan untuk menyisir daerah tersebut mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan anggota suku namun tak ada hasil. Pada suatu ketika, seekor anjing datang dengan tubuh berbalut lumpur dan mulut yang basah. Melihat hal tersebut, kelompok suku ini berkesimpulan bahwa anjing tersebut telah menemukan sebuah mata air. Keesokan harinya, sebuah kain berlubang berisikan abu dapur kemudian diikat pada leher anjing tersebut, dengan maksud jejak abu dapur yang ditinggalkan oleh anjing tersebut akan menuntun mereka pada sumber mata air. Dan benar seperti perkiraan mereka, Berpatokan pada jejak abu dapur yang ditinggalkan oleh anjing tersebut, mereka akhirnya menemukan sebuah mata air. Tapi sayang, kebahagian akan penemuan sumber air tersebut tidak berlangsung lama, beberapa saat kemudian munculah suku-suku dari daerah Baopukang yang mulai datang karena mengetahui adanya mata air tersebut. Pertengkaranpun tak terelakan, akhirnya terjadilah perang antar suku Brewumaking dan suku-suku yang mendiami wilayah Baopukang. Jumlah anggota suku yang sedikit, memaksa suku Brewumaking untuk mundur dan mencari daerah pemukiman yang baru. Suku ini kemudian berjalan terus ke bagian timur, dan sampai ke wilayah Lamawolo. Di wilayah Lamawolo, suku ini diterima baik oleh suku tuan tanah yakni Demon Loku dan Poylado. Relasipun dibangun antara ketiga suku ini, dan untuk memperatnya, dilangsungkanlah pernikahan antara anggota suku Berewumaking dan anggota suku Demon Loku. Hingga saat ini, sebagai bentuk penghargaan Berewumaking terhadap jasa sang anjing yang menemukan mata air tersebut, Suku Berewumaking mengharamkan daging anjing untuk dikonsumsi.

Nenek moyang suku Berewumaking merupakan bangsa pelaut yang menaruh sumber penghasilannya pada hasil tangkapan ikan. Hal ini merupakan hal yang baru bagi masyarakat Lamawolo kala itu, karena kehidupan ekonomi masyarakat bergantung pada hasil perkebunan. Melihat kemahiran suku Berewumaking pada wilayah laut, tuan tanah akhirnya mempercayakan suku ini untuk menjaga wilayah laut.

Peran sebagai penjaga laut selain menjaga wilayah Lamawolo dari masuknya suku-suku lainnya, juga mencakup wilayah yang merupakan wilayah larangan atau dikenal dengan istilah Muro. Muro pada masyarakat adat Desa Lamawolo meliputi wilayah darat maupun laut. Di wilayah daratan, Muro mengacu pada larangan untuk mengkonsumsi jagung, sebelum adanya seremonial adat. Sedangkan untuk wilayah laut, Muro meliputi wilayah “Wena Wara Wutun” sampai dengan daerah “Nuba Ona” atau melingkupi keseluruahan wilayah laut Desa Lamawolo. Larangan menangkap ikan berlaku bagi seluruh masyarakat baik yang berasal dari Lamawolo, maupun di luar Lamawolo.

Sanksi berupa hewan ternak seperti babi atau kambing akan dikenakan bagi masyarakat yang melanggar aturan tersebut. Hewan-hewan ini kemudian akan dikumpulkan untuk disembelih pada saat seremonial makan jagung di bulan Mei, dagingnya akan dibagikan merata kepada seluruh masyarakat Lamawolo. Namun kini, tradisi tersebut oleh pemerintah desa disesuaikan dengan keadaan sekarang. Sanksi berupa ternak tersebut bisa digantikan dengan denda uang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *