Tak Kebagian BST, Anak Yatim dan Petani di Lewoleba Hanya Pasrah

Tak Kebagian BST, Anak Yatim dan Petani di Lewoleba Hanya Pasrah
Yosep Soto, warga RT 12, Kelurahan Lewoleba Tengah di kediamannya.

 

Lembatanews.com – Di tengah hiruk pikuk antrean pengambilan bantuan sosial tunai (BST) dari Kementerian Sosial RI di kelurahan, ada banyak warga yang seharusnya berhak mendapatkan BST, justru tak kebagian. Malahan, sejumlah aparatur sipil negara alias ASN malah ketiban rejeki Rp600 ribu per bulan itu. Apa daya. Mereka yang tak kebagian ini pun hanya pasrah. Mau bagaimana lagi, mungkin bukan rejekinya mereka.

Kepasrahan sedemikian itu diungkapkan seorang petani berusia 65 tahun, Yosep Soto, warga RT 12, RW 04, Kelurahan Lewoleba Tengah saat ditemui di kediamannya, Jumat, 22 Mei 2020. Duda enam anak itu mengaku tak mauemaksakan diri jika memang sudah tidak terdaftar dalam penerima BST.

Padahal, sebagai eks pedayung becak di Kota Lewoleba ini, petani yang pernah bekerja di warung bersama istrinya saat mending istri masih hidup itu hidup dalam keterbatasan. Sebagai warga negara, ialah yang berhak mendapatkan BST di tengah Pandemi Covid-19 karena ia juga terdampak. Apalagi, ia masih memiliki tanggungan dua orang anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Nursanti Lamahoda, yatim piatu yang sedang hamil tujuh bulan.

 

Apalagi, selama ini ia sama sekali tidak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, baik itu bantuan langsung tunai (BLT), bantuan beras pra sejahtera (rastra), maupun bantuan perumahan. Tapi, walaupun tak pernah kebagian semua bantuan sosial dari pemerintah itu, ia pun lagi-lagi tak dijatah BST di tengah dampak Pandemi Covid-19 ini.

Padahal, Yosep Soto mengaku namanya didaftar oleh ketua RT yang datang langsung ke rumahnya. KTP dan kartu keluarga miliknya juga sudah diserahkan kepada ketua RT sebagai bahan untuk diusulkan ke kelurahan sebagai penerima BST.

Dalam kepasrahan, ia malah bersyukur masih diberi kesehatan dan tangan serta kaki yang utuh untuk bisa bekerja mendapatkan sedikit nafkah untuk menopang hidupnya dan kedua anaknya, walau terkadang masih serba kekurangan dan harus dibantu anaknya Yuliana Margawati.

“Dulu pernah dapat raskin, tapi sekarang sudah tidak dapat lagi. Tiap kali kami mau cek bapa selalu bilang biar sudah ina, mungkin ini bukan nasib kita. Mungkin ini bukan rejeki kita,” kata Yuliana Margawati

Margawati menambahkan, meskipun tak kebagian BST, ayahnya tidak ngotot. Bahkan, ayahnya meminta mereka tidak lagi mengecek nama di kelurahan.

Ayahnya, kata Margawati, masih menanggung dua adiknya yang masih di SMA dan SMP. Dengan pekerjaan yang tak menentu seperti itu, jika ada kekurangan maka ia bersama dua adiknya yang di Kalimantan dan di Kupang yang ikut membantu membiayai sekolah adik-adik mereka.

Diakuinya, saat ia mengecek di kantor kelurahan, oleh pihak kelurahan disampaikan untuk.menunggu tahap kedua.

“Bapa bilang bersyukur masih dikasih kesehatan. Bersyukur juga Tuhan kasih tangan lengkap dan masih bisa bekerja,” katanya.

Sementara Nursanti Lamahoda, warga RT 10, RW 04, Kelurahan Lewoleba Tengah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci di rumah tetangganya dan sedang hamil tujuh bulan ini pun mengaku tidak kebagian BLT. Padahal, KTP dan KK sudah dikumpulkan dan didaftar oleh ketua RT setempat.

Namun, saat pembagian BST, namanya tidak ada dalam daftar penerima.

Sehari-hari, ia hanya berharap dari belas kasih para tetangga. Dan dalam pembagian BST, karena ia tidak dapat sedangkan tetangganya yang ASN ternyata kebagian, sehingga ia diberi Rp300 ribu oleh mereka.

Ia berharap, bisa mendapatkan bantuan BST di masa Pandemi Covid-19 ini untuk meringankan beban ia dan adiknya yang sudah yatim piatu itu.

“Selama ini bantuan PKH dan bantuan rastra juga tidak dapat. RT sudah minta data tapi tidak dapat. RT bilang sudah cek nama tapi bilang tidak ada nama,” kata Nursanti.

Ketua RT 12, RW 04, Kelurahan Lewoleba Tengah Antonia Solo di kediamannya menjelaskan, untuk wilayahnya, ia mendaftarkan semua warga karena menurutnya, semua warga terdampak Covid-19. Namun, saat dimasukkan di kelurahan, masih diverifikasi.

“Saya masukan daftar semua karena corona jadi dampak kena semua. Setelah data semua di kelurahan disensor karena pegawai negeri, suami pegawai dan pensiun serta KSO tidak masuk,” katanya.

Hanya saja, dari semua data yang sudah dimasukkan itu, tidak.semuanya menerima kebagian BST. Bahkan, ada tiga nama dari Keluarga Lewoleba Selatan yang masuk dalam daftar penerima di RT 12.

“Kenapa warga yang saya tidak kenal ini mauk ke saya punya RT, sementara saya punya warga lain tidak ada nama di daftar,” tegas Solo.

Ia sudah memprotes dan menyampaikan ke kelurahan dan juga ke Dinas Sosial dan PMD namun Dinsos menjelaskan bahwa mereka.menrima data dari kelurahan.

Ketua RT 10, RW 04, Kelurahan Lewoleba Tengah Benedikta Barek menambahkan, di RT nya, ada warga yang masih bujangan juga kebagian BST. Ada yang sudah terlanjur menerima BST dan ada yang masih ditunda.

Ada satu nama warga RT yang masuk di daftar nama.oenerima di Kelurahan Lewoleba Utara.

Anselma Puhugelong, Sekretaris Lurah Lewoleba Tengah.

Sekretaris Lurah Lewoleba Tengah Anselma Puhugelong ditemui di kantor Lurah Lewoleba Tengah menjelaskan, ada beberapa RT data yang dikirim ke kelurahan dan diteruskan ke Dinsos. Data usulan dari RT tidak ada yang dikeluarkan, kecuali ASN, pensiunan ASN, TNI/Polri, dan KSO. Namun, data yang dikeluarkan ternyata masih ada sejumlah ASN yang masuk dalam daftar penerima BST.

“Karena nama ASN masih ada, maka sekalipun ada nama dipending dan konsultasi ke Dinsos bagaimana caranya. Sehingga yang asn belum dibayar dan belum hitung secara pasti berapa orang,” katanya.

Ia menjelaskan, untuk Lewoleba Selatan, data yang dikirim ke Dinsos sebanyak 828 KK untuk tahap pertama. Tahap kedua 161 KK. Dari jumlah itu, sebanyak 207 KK yang ditetapkan menerima BST. Sejauh ini sebanyak 187 KK sudah menerima BST, dan tersisa 20 KK yang belum.menerima BST.

Sementara di Kelurahan Lewoleba Barat, kerabat RT malah kebagian BST. Bahkan, anak ketua RT yang masih anak-anak dan belum ber-KTP justru kebagian BST.(tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *