Takut Ketahuan Istri dan Keluarga, Nekat Buat Laporan Palsu

Takut Ketahuan Istri dan Keluarga, Nekat Buat Laporan Palsu

Lembatanews.com – Simon Labi (21 tahun), warga Desa Atakowa, Kecamatan Lebatukan yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek nekat membuat laporan palsu di Polres Lembata. Simon nekat membuat laporan palsu karena takut ketahuan keluarga istrinya setelah ia nyaris ditangkap massa saat membawa anak gadis orang dan duduk-duduk di pantai dekat kompleks Bandara Wunopito.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Lembata Iptu Komang Sukamara menjawab lembatanews.com di ruang kerjanya, Kamis (29 Agustus 2019) menjelaskan, sesuai laporan yang dibuat oleh Simon bahwa pada Minggu (25 Agustus 2019) malam saat ia melintas di Jalan Trans Lembata tepatnya di dekat bengkel milik Tonce di dekat ruko Yohanes de Rosari di Kelurahan Selandoro, Nubatukan, ia disetop seseorang berbaju kaus lengan panjang bertulis polisi di dada kirinya.

Saat itu, terang Komang menceritakan laporan Simon, pelapor hendak ke acara sambut baru. Dialam perjalanan, ada oknum polisi menahan dan mengatakan di sini ada tilang mana kuncinya, sehingga meminta motornya dan mendorong motor memasuki gang di samping bengkel.

“Si pelapor minta mau ambil barang di jok motor tapi tidak diizinkan. Kemudian oleh oknum polisi, motornya digeser dan sudah didorong oknum polisi ke dalam menuju arah pantai samping bengkel,” terangnya.

Simon lalu melaporkan hal itu kepada keluarganya dan pada Senin ia bersama keluarganya ke Satlantas untuk mengecek.motor tersebut. Sayangnya, saat di Satlantas, motor dimaksud tidak ada dan.mereka memutuskan langsung membuat laporan polisi.

“Setelah terima laporan polisi kminlngsung lakukan penyidikan sesuai kronologi yang diceritakan pelapor. Tapi setiap saya tanya, ceritanya selalu berubah-ubah. Tanya ciri-ciri oknum polisi juga dia bilang tidak lihat karena gelap,” kata Komang.

Saat menelusuri lokasi tempat ia ditilang, kata Komang, dan setelah dicek tidak percaya dengan cerita pelapor dan ikuti alur pelapor dan sampai di lokasi ia ditilang. Dari ceritanya yang berubah-ubah, pelapor akhirnya mengaku membawa seorang perempuan dan diteriakin oleh massa maka dia lari. Saat itu, perempuan yang bersamanya ditahan warga dan anak perempuan diantar ke rumah karena rumahnya dekat.

“Karena itu dia buat laporan palsu takut karena pelapor sudah beristri dan takut keluarganya mengamuk,” kata Komang.

Setelah tahu laporan yang dibuat pelapor palsu, pihaknya kembali membuat laporan model A dan saat ini pelaku dikenakan wajib lapor. Ia tak ditahan karena ancaman hukumannya hanya 1 tahun 4 bulan berdasarkan pasal 220 KUHP.

“Sekarang kita harus hati-hati terima laporan. Seperti itu harus diperdalam lagi. Pelapor membuat rekayasa cerita ditilang. Setelah lakukan penyelidikan berkoordinasi dengan anggota Intel dan menelusuri cerita kronologi penilangan baru tahu bahwa dia membuat laporan palsu,” kata Komang.

Bahkan motor yang katanya ditilang oknum polisi masih berada di lokasi saat ia diteriakin warga dan setirnya dalam kondisi terkunci. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *