Tan Malaka dan Delapan Tokoh Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam

Lembatanews.comPEMERINTA Kota Amsterdam akan meresmikan penggunaan nama jalan-jalan di kawasan pemukiman Ijburg yang mengabadikan 27 nama tokoh antikolonial dari negara bekas koloni Belanda, sembilan di antaranya dari Indonesia. Selain sembilan nama tokoh, bakal ada satu nama jalan yang menggunakan nama Merdekastraat atau Jalan Merdeka.

Pada wilayah Ijburg adalah kawasan pemukiman yang terletak di Ijmeer, pulau buatan sebelah tenggara Amsterdam itu, akan terpajang nama Tan Malaka (Tan Malakastraat), RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara (Suwardistraat), SK Trimurti (Trimurtistraat), Kapiten Pattimura (Pattimurastraat), Pangeran Diponegoro (Diponegorostraat dan Diponegorohof), Maria Ullfah (Mariaulfahstraat), Soekaesih (Soekaesihstraat), Roestam Effendi (Roestam Effendistraat), Lambertus Nicodemus Palar (Palarstraat).

Seperti dikutip dari harian Parool kemarin, 1 Agustus 2019, inisiatif penamaan jalan itu datang dari walikota Amsterdam Femke Halsema sebagai kelanjutan proposal “Keberagaman di Jalanan Amsterdam” yang diusulkan oleh anggota Dewan Kota Sofyan Mbarki dari Partai Pekerja (PvdA, Partij van de Arbeid).

“Kami ingin Amsterdam menjadi kota bagi semua orang,” kata Femke dalam peringatan penghapusan perbudakan yang diselenggarakan di kawasan Oosterpark, Amsterdam, 1 Juli lalu.

Sebelumnya, dalam pidato di hadapan sidang Dewan Kota Amsterdam 13 Februari yang lalu Sofyan mengatakan gagasan penggunaan nama tokoh beragam bangsa itu tidak untuk menggantikan nama jalan yang sudah ada. Kendati beberapa di antara  nama jalan itu menggunakan nama tokoh yang memiliki catatan buruk di masa lalu.

“Ini adalah bagian dari sejarah kita, suka atau tidak. Dalam pandangan saya,  daripada menghapuskannya, lebih baik sejarah menjadi bahan perbicangan satu sama lain untuk menjaga tidak terjadi pengulangan,” kata Sofyan.

Beberapa tahun belakangan isu penggunaan tokoh-tokoh sejarah kontroversial mengemuka di Belanda. Salah satunya nama JP Coen, bekas Gubernur Jenderal VOC pertama yang diabadikan menjadi nama sekolah di kawasan Indischebuurt, Amsterdam. Pihak pengelola sekolah bermaksud mengubah nama sekolah karena merasa malu menanggung dosa masa lalu JP Coen yang penuh kekerasan semasa menjelajah di Indonesia.

Seperti dikutip dari situs amsterdam.nl pemilihan nama 27 tokoh tersebut berdasarkan saran dan kajian dari KITLV (Lembaga Kerajaan untuk Bahasa, Sejarah dan Antropologi), NiNsee (Nationaal instituut Nederlands slavernijverleden en erfenis, Lembaga Nasional  Sejarah dan Warisan Perbudakan Belanda) dan Komisi Penamaan Ruang Publik (Commissie Naamgeving Openbare Ruimte).

Dari sembilan nama tokoh Indonesia tersebut tiga di antaranya adalah tokoh perempuan. SK Trimurti dikenal sebagai wartawan dan pejuang kemerdekaan yang pernah menjabat Menteri Perburuhan era kabinet Amir Sjarifuddin. Maria Ullfah adalah tokoh gerakan perempuan, sarjana hukum perempuan pertama dari Indonesia lulusan Universiteit Leiden yang pernah jadi Menteri Sosial era kabinet Sutan Sjahrir.

Nama yang tak begitu dikenal publik Indonesia adalah Soekaesih. Perempuan kelahiran Garut, tokoh Sarekat Rakjat Poetri yang pernah mendekam di Kamp Digul atas tuduhan terlibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1926. Dia adalah janda Soekarna, tokoh Sarekat Islam yang juga dibuang ke Boven Digul. Sepeninggal suaminya, Soekasih menikahi pria Belanda J.H. Philipo. Dan bersama Philipo dia berangkat ke Amsterdam, Belanda pada Oktober 1937 untuk menyuarakan penderitaan tahanan politik kamp Digul kepada publik Belanda.

Tak Ada Jalan Buat Sukarno?
Dari sederet nama tokoh anti-kolonialisme asal Indonesia yang diabadikan sebagai nama jalan tak terdapat nama Sukarno. Padahal nama Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir sudah terlebih dahulu digunakan di Haarlem dan Gouda. Menanggapi hal tersebut, sejarawan dari Universiteit van Amsterdam Remco Raben mengatakan kebencian publik Belanda pada Sukarno bukan saja karena dia berkolaborasi dengan Jepang.

“Ketakutan dan kebencian orang-orang Belanda terhadap Sukarno sudah mendarah daging sejak lama bahkan sampai sebelum masa perang berlangsung,” kata Remco melalui pesan Whatsapp.

Berbagai usulan untuk mengabadikan nama Sukarno di ruang publik Belanda memang pernah ada. Salah satunya dikemukan oleh Martine Gosselink, kepala divisi sejarah Museum Kerajaan (Rijksmuseum). “Suatu kali dalam sebuah wawancara radio saya pernah menyampaikan usulan agar didirikan patung Sukarno di Hoorn,” katanya.
Kenapa di kota Hoorn? “Karena di kota yang sama berdiri patung Jan Pieterszoon Coen,” pungkasnya.

Sementara itu Aminuddin Th. Siregar, sejarawan seni yang kini menempuh studi doktoralnya di Universiteit Leiden mengatakan baginya nama Sukarno tak terlalu penting jika nama Sukarno diabadikan sebagai nama jalan di Belanda. “Saya kira dia (Sukarno, red.) pun tidak akan peduli soal itu dan untuk beberapa hal mungkin dia akan bangga,” kata Aminuddin.

Melihat fenomena pengabadian nama tokoh Indonesia sebagai nama jalan di Belanda, sejarawan seni yang akrab dipanggil Ucok itu menduga Belanda sedang bermain-main romantisme masa lalunya berlawanan dengan paradigma sebagian orang Indonesia. “Bagi Belanda ini seperti ungkapan “saat kau masih kumiliki” sedangkan bagi Indonesia “saat kau masih jadi musuhku”. (sumber majalah historia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *