Tanam Perdana Leye, Nasrun Neboq Imbau Masyarakat Kedang terus Budidayakan Leye

Tanam Perdana Leye, Nasrun Neboq Imbau Masyarakat Kedang terus Budidayakan Leye
Staf Ahli Bupati Lembata Nasrun Neboq saat melakukan penanaman perdana leye di Leu Tuan Leuhoe, Desa Hoelea 2, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Sabtu, 6 November 2021.

Lembatanews.com – Masyarakat adat Leuhoe, Hoelea dan komunitas masyarajat adat Kedang diminta untuk terus membudidayakan tanaman leye (bahasa Kedang) agar tidak punah. Leye atau dalam bahasa Indonesia disebut jelai atau jali-jali, merupakan salah satu jenis pangan lokal masyarakat yang nyaris punah karena sudah jarang dibudidayakan oleh masyarakat.

Staf Ahli Bupati Lembata Nasrun Neboq saat melakukan penanaman perdana tanaman leye di Leu Tuan (kampung lama) Leuhoe, Desa Hoelea 2, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Sabtu, 6 November 2021 mengatakan, masyarakat Kedang terkhusus masyarakat Desa Hoelea 1 dan Hoelea 2 di Kecamatan Omesuri yang masih membudidayakan leye, diharapkan terus meningkatkan budidaya leye agar tidak punah.

Nasrun Neboq mengatakan, wilayah Kedang sangat kaya ragam bahan pangan lokal termasuk leye. Leye dijadikan pangan lokal yang sangat dekat dengan masyarakat bahkan sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Kedang karena masih ditemukan ada orang-orang tertentu yang karena alasan tradisi dan budaya hanya mengkonsumsi leye.

Ia mengatakan, zaman dulu hampir semua orang Kedang menanam leye untuk dikonsumsi. Namun, akibat globalisasi dan bergesernya pola konsumsi dari pangan lokal ke beras, beberapa pangan lokal telah terpinggirkan bahkan hampir punah. Salah satunya leye.

“Tanaman leye hanya dibudidayakan oleh keluarga tertentu saja karena alasan tradisi/budaya. Bila tidak anak-anak akan melupakan dan tak lagi tahu tanaman leye atau hanya mendengar kata leye tanpa tahu wujud tanamannya,” kata Nasrun Neboq.

Karena itu, ia berterima kasih kepada kelompok Sadar Wisata Lamun Lama Lete dan Pemerintah Desa Hoelea dan Hoelea 2 bersama masyarakat yang sudah berupaya membudidayakan kembali tanaman leye dengan penanaman perdana.

Ia mengharapkan, momentum penanaman perdana itu menjadi momentun menghidupkan kembali kecintaan pada pangan lokal dan kembali membudidayakannya, sekaligus mempromosikan penggunaan pangan lokal baik untuk konsumsi maupun untuk usaha ekonomi produktif yang dapat menghasilkan pendapatan tambahan bagi keluarga maupun kelompok-kelompok usaha lainnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata Apolonaris Mayan pada kesempatan itu mengatakan, menanam leye, tidak saja sebagai simbol budaya, tetapi lebih dari itu, merekatkan tali persaudaraan di antara masyarakat.

Leye yang di tanam di kawasan khusus kampung lama Leuhoe, untuk memenuhi kebutuhan, namun perlu pula mulai dipikirkan untuk membudidayakannya secara luas di lokasi lain.

Sehingga, leye nantinya dapat dikomersialkan baik dalam bentuk beras leye, maupun emping leye yang bisa menjadi ole-ole khas kampung lama Leuhoe.

Sementara itu, Camat Omesuri Ade Hasan Yusuf mengatakan, hadir dalam prosesi penanaman leye (miwaq leye) menjadi kebanggaan masyarakat Hoelea.

Pemerintah berterima kasih kepada masyarakat Hoelea yang masih terus menjaga tradisi budaya warisan para leluhur.

“Kegiatan ini jadi titik awal menyusuri sejarah nenek moyang dan mengambil pelajaran dari warisan para leluhur terutama terkait pemanfaatan pangan lokal leye,” kata Ade Hasan.

Pejabat yang mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata Muhamad Nurdin mengatakan, budidaya leye, atau jali-jali merupakan komoditi unik dan hanya ada di Hoelea yang mesti mulai dipromosikan keberadaannya.

Ia menjelaskan, leye bisa tumbuh pada ketinggian 0-1.500 meter di atas permukaan laut. Tanaman leye cocok di semua ketinggian dan yang paling ideal pada ketinggian 500 MDPL. Sedangkan PH tanah yang cocok untuk mengembangkan leye adalah sangat masam sampai PH netral 4-7 PH tanah yang cocok untuk mengembangkan leye di kawasan luas.

Terkait sistem budidaya, lanjutnya, dikenal lima atau panca usaha tani, yakni pertama persiapan lahan, kebutuhan pokok untuk konsumsi rumah tangga maupun orientasi pasar. Kedua, persiapan benih. Menurutnya, tidak semua biji dapat dijadikan benih, karena ada yang cacat, karena penyakit, sehingga harus dicari yang bagus dan mengkilap.

Ketiga, penanaman. Terkait ini, ia minta kelompok tani membuatkan jadwal tanam di kelompok tani. Keempat, pemeliharaan, merupakan tahapan paling penting, tidak saja menyiangi rumput, tapi juga pupuk yang mengandung nitrogen (urea).

“Keunikan tanaman ini, dapat dijadikan tanaman penguat teras karena akarnya sangat bagus,” katanya.

Ia mengatakan, dalam kaitan dengan topografi di NTT yang memiliki iklim ekstrem, ia menyarankan agar tak bercocok tanam dengan sistem monokultur. Tumpang sari menjadi sistem bercocok tanam yang cocok di NTT agar jika tanaman satu gagal, masih ada tanaman lain yang bisa dipanen.

Leye di kampung lama Leutuan, dapat menjadi ole-ole khas dalam mendukung pariwisata. Sehingga, agrowisata dapat mendukung sektor pariwisata. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *