Tata Kelola Destinasi Bagus Jadi Daya Tarik Kunjungan Wisatawan

Tata Kelola Destinasi Bagus Jadi Daya Tarik Kunjungan Wisatawan
Asisten 1 Sekda Lembata Aloysius Buto saat membuka kegiatan pelatihan bagi desa wisata, Senin, 5 Oktober 2020.

 

Lembatanews.com – Wisatawan akan senang datang dan berkunjung ke destinasi-destinasi wisata kalau tata kelolanya bagus. Pengelolaan berkaitan dengan manajemen usaha perjalanan wisata, manajemen pengelolaan destinasi pariwisata dan Sapta Pesona, penyusunan paket wisata, profesionalisme pemandu wisata (guide) dan tata kelola homestay. Keberadaan homestay sangat strategis untuk mendukung pengembangan kawasan objek pariwisata,.

Demikian penegasan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dalam sambutannya saat membuka pelatihan yang dibacakan Asisten 1 Sekda Lembata Aloysius Buto, Senin, 5 Oktober 2020.

Pemkab Lembata terus melakukan pengembangan melalui inovasi promosi dan peningkatan pasar serta pengembangan destinasi wisata di Lembata.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui pembangunan proyek-proyek strategis dan proyek prioritas pada titik-titik kegiatan daya tarik wisata berbasis masyarakat.

Pengembangan daya tarik wisata berbasis masyarakat itu terintegrasi dalam model pengembangan “Triangle line Tourism” (Volcano Batutara, Lamalera Whale Catching, Travel Fishing). Salah satu strateginya dilakukan dengan konsep “digital tourism” yang bersinergi dengan kebijakan pariwisata pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Dijelaskannya bahwa pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor pembangunan yang digalakkan pemerintah karena memiliki peranan penting dalam meningkatkan pendapatan daerah. Karena itu, Pemerintah Daerah dalam RPJMD Kabupaten Lembata Tahun 2017- 2022 menempatkan pariwisata sebagai leading sector pembangunan dengan harapan dapat memberikan multiplier effect bagi sektor-sektor lainnya dalam meningkatkan pendapatan daerah.

Menurut Bupati Sunur, kegiatan pelatihan manajemen destinasi dan manajemen homestay yang digelar Senin, 5 Oktober 2020 hingga Sabtu, 10 Oktober 2020 (5/10/2020) hingga Sabtu, 10 Oktober 2020 merupakan langkah memperkuat kapasitas pengelolaan pariwisata di daerah ini.

Pengelolaan jasa akomodasi seperti homestay harus dilakukan secara baik dan berstandar sehingga memberikan rasa nyaman agar, dapat menjadi daya tarik sekaligus pemicu pengembangan potensi wisata yang dapat menggenjot perekonomian masyarakat yang berada di kawasan destinasi wisata.

“Para pengelolah homestay termasuk masyarakat di daerah-daerah destinasi wisata harus sudah mulai berpikir untuk membangun dan mengembangkan homestay sebagai atraksi wisata baru,” kata Bupati Sunur.

Homestay, lanjutnya, juga dapat menjadi salah satu daya tarik untuk wisatawan berkunjung ke destinasi tersebut karena keunikannya. Untuk itu harus ada inovasi-inovasi dalam pengelolaan homestay sehingga diharapkan dengan adanya daya dukung tersebut perekonomian masyarakat bisa tumbuh.

Dalam rangka memperkuat industri pariwisata di daerah ini, diperlukan usaha dan kerja keras semua elemen yang terlibat dalam pengelolaan pariwisata.

“Saudara-saudara harus disiplin, jujur dan mampu membangun kerja sama dan sinergitas antara semua komponen pengelola pariwisata. Dan yang tidak kalah pentingnya juga adalah menjaga keamanan sehingga wisatawan merasa nyaman berada di daerah ini. Saya yakin melalui pelatihan-pelatihan seperti ini serta pendampingan-pendampingan yang terus menerus, industri pariwisata kita akan tumbuh dan semakin berkembang dari waktu ke waktu,” tandas  Bupati Sunur.

Sementara itu, Laurensius Sandro Rero, Sekretaris Jurusan Pariwisata Politeknik Kupang, sekaligus pegiat Promosi Perhotelan, selaku instruktur dalam pelatihan manajemen homestay menjelaskan, dalam pelatihan, kepada peserta ia menjelaskan bahwa pengelolaan destinasi, ditekankan bagaimana masyarakat itu sadar akan pariwisata, kemudian untuk destinasinya, penting mengenal masalah-masalah, kemudian dibentuk menjadi satu atraksi.

Dalam pelatihan itu lebih difokuskan pada manajemen homestay. Peserta diharapkan untuk paham tentang standarisasi usaha homestay.

Sedangkan soal praktik masakan di sesuaikan dengan bahan bahan local yang ada.

Menurut Rero, ada nilai penting pengembangan manajemen homestay. Salah satunya lebih mencerminkan budaya lokal.

Menurutnya, apa yang ada di masyarakat itu yang ditampilkan. Jadi tidak perlu dibuat-buat. Dari yang sebenarnya tidak ada, diada-adakan.

Menurutnya, gaya dan kebiasaan masyarakat yang unik untuk dijual. Sekarang ini, lanjutnya, homestay lagi marak-maraknya dikembangkan. Dari segi pendapatan dia langsung ke masyarakat. Tamu yang menginap, mempelajari adat istiadat, kebiasaan menjadi nilai tambah yang dicari para tamu.

“Tentang homestay, yang penting nyaman. Saya tekankan kepada pengelola wisata desa untuk lebih menjual aktivitas masyarakat. Kebiasaan tuan rumah itulah, salah satu keunikan yang ditawarkan kepada tamu,” tandas Rero. (*/tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *