Tersangka Pelaku Penganiayaan Anak di Bawah Umur Seharusnya Ditahan

Tersangka Pelaku Penganiayaan Anak di Bawah Umur Seharusnya Ditahan

Lembatanews.com – Lembaga Bantuan Hukum Komisi Nasional (LBH Komnas) Pemerhati Hak Demokrasi dan HAM Wilayah NTT saat ini sedang melakukan pengumpulan data dan keterangan dari korban dan saksi penganiayaan anak di bawah umur oleh oknum ASN lingkup Setda Kabupaten Lembata. Setelah bertemu korban dan keluarga, menurut rencana Senin (9 Desember 2019), LBH Komnas Pemerhati Hak Demokrasi HAM NTT akan bertemu Kapolres Lembata.

Demikian dikatakan Nurkholid Madjid, Koordinator LBH Komnas Pemerhati Hak Demokrasi HAM Wilayah NTT saat ditemui di kediaman MRS (17), korban penganiayaan anak di bawah umur, di Waijarang, Kecamatan Nubatukan, Minggu (8/12).

Madjid menjelaskan, pertemuan dengan Kapolres untuk berkoordinasi dan mengecek sejauh mana penanganan kasus penganiayaan anak di bawah umur yang telah dilaporkan tersebut. Mengingat, sejauh ini, korban dan saksi-saksi sudah dua kali memberikan keterangan. Sedangkan para tersangka pelaku belum juga diperiksa.

Menurutnya, kasus tersebut sudah menjadi perhatian publik dan sehingga polisi diminta untuk serius menanganinya. Apalagi, kasus ini  melibatkan korban anak di bawah umur yang dalam penanganannya menggunakan UU pidana umum dan UU Perlindungan Anak.

Karena itu, untuk menghindari terjadinya polemik dan persoalan baru di tengah masyarakat akibat lambannya pemeriksaan dan penahanan terhadap para tersangka, maka penyidik Polres diimbau untuk segera memeriksa dan menahan para tersangkatersang.

Penahanan, lanjutnya, tidak saja untuk menghindari pelaku melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi perbuatannya, tetapi juga untuk memenuhi rasa keadilan para korban.

Seharusnya, kata Madjid, sejak awal kasus ini, para tersangka pelaku diamankan 1×24 jam, sambil dilakukan pemeriksaan saksi. Sehingga jika dari hasil pemeriksaan ancaman hukumnya memungkinkan tersangka ditahan maka langsung ditahan.

“Dalam kasus penganiayaan anak ini, bukan soal tindakan pidananya, tapi soal aspek kemanusiaannya. Karena itu, diharapkan publik.Lembata juga ikut memberikan pencerahan terhadap kasus ini,” tegas Madjid.

Ketua LSM Peduli Perempuan dan Anak Lembata (Permata) Maria Loka mengatakan, sesuai koordinasi dengan.pihak.sekolah korban, maka.mulai Senin (9/12) korban mulai memgikuti ujian susulan.

Hanya saja, pihak sekolah meminta agar selama ujian, ada pihak keluarga yang mendampingi agar korban aman dan nyaman selama ujian. Sekolah khawatir jika tak ada keluarga yang mendampingi saat ujian ada pihak lain yang berupaya mendekati korban.

“Nanti bapak kandung korban yang dampingi,” tandasnya. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *