Usai Salurkan Bantuan Pengungsi, Barakat Publikasi Bantuan Pengungsi ke Publik, Benediktus Bedil: Ini Bentuk Pertanggungjawaban Kami

Usai Salurkan Bantuan Pengungsi, Barakat Publikasi Bantuan Pengungsi ke Publik, Benediktus Bedil: Ini Bentuk Pertanggungjawaban Kami
Direktur LSM Barakat Benediktus Bedil menjelaskan donasi dari para donatur dan mekanisme penyaluran kepada pengungsi dalam konverensi pers di Posko Barakat, Lamahora, Selasa, 22 September 2021 malam.

 

Lembatanews.com – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Lembata (Barakat) yang telah menerima bantuan baik berupa barang dan uang dari para donatur untuk para korban erupsi Gunung Api Ile Lewotolok dan korban banjir bandang dan tanah longsor di Lembata mempublikasikan semua bantuan yang diterima. Publikasi donatur dan jenis bantuan yang didonasikan para donatur ini sebagai bentuk pertanggungjawaban Barakat kepada para donatur, juga untuk menjaga kepercayaan para donatur.

Demikian dikatakan Direktur LSM Barakat Benediktus Bedil kepada wartawan di Posko Barakat, Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur, Kecamatan Nubatukan, Selasa, 22 September 2021 malam kemarin.

Ia menjelaskan, bantuan yang disalurkan Barakat berasal dari 28 donatur baik perorangan maupun organisasi baik yang ada di Lembata maupun yang tersebar di 14 daerah lainnya di Indonesia. Di antaranya, Walhi NTT, IDEP Bali, Forum PRB Provinsi NTT, Yayasan Tananua Ende, Forum Lembata Memanggil, Yayasan Satu Hati untuk NTT, Rahim Lamaholot, Nusabunga, Paguyuban Lamatokan, Komunitas Jalan Kaki (KJK) Maumere, Keluarga Lamaholot Manggarai dan Ivaro Ventura, LMND Flores Timur, Ina-ina Pencari Rupiah di Kalimantan, dan donatur perorangan lainnya.

Ia menjelaskan, mempublikasikan semua donasi para donatur penting dilakukan demi menjaga kepercayaan mereka.

“Ini bentuk kepercayaan dari para donatur. Ada yang sudah bantu sejak erupsi dan karena percaya, mereka salurkan lagi saat banjir bandang. Kalau tidak dibuka ke publik akan timbulkan kecurigaan salah sasaran dan itu yang mau diupayakan untuk dihilangkan, juga pertanggungjawaban kepada donatur, karena kepercayaan merupakan sesuatu yang penting demi membangun kepercayaan,” terang Bence, sapaan karib Benediktus Bedil.

Sebab, jika tidak dipertanggungjawabkan, ke depan tak lagi dipercaya mengingat ada banyak donatur yang siap membantu kapan saja.

Selain membantu menyalurkan bahan kebutuhan pokok makanan dan minuman, obat-obatan, Barakat juga melakukan pemberdayaan dan trauma healing di posko Barakat.

Untuk pengungsi banjir bandang, Barakat juga membuka kelas “moting tulung taling”, sebuah kearifan lokal masyarakat Ile Ape. Melalui moting Tulung taling ini, Barakat mengumpulkan para pengungsi untuk berdiskusi. Pengungsi diberi ruang menceritakan suka duka yang dialami saat bencana.

“Mereka ceritakan saat banjir datang, tanda-tanda sebelum banjir hingga mereka selamat. Gejala alam selalu ada dan yang selamatkan mereka adalah karena pohon. Karena ada yang selamat karena panjat pohon, pegang di akar pohon. Dari sini simpulkan kalau begitu harus tanam pohon,” katanya.

Terkait penanganan pengungsi, Bence mengatakan, salah satu kendala adalah soal komunikasi dan koordinasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata. Dalam penanganan, selain pemerintah, banyak pihak lain juga yang mendapatkan donasi untuk disalurkan. Seharusnya, pemerintah sebagai posko utama berkomunikasi dan berkoordinasi dengan lsmy, dan pihak lain itu.

“Harusnya kelompok-kelompok yang terlibat dihadirkan agar dikomunikasikan jenis bantuan dan titik distribusi, kalau tidak maka akan tumpang tindih dan ada yang dapat bantuan banyak, ada yang sedikit bahkan ada yang tidak dapat bantuan,” tegas Bence.

Teri Purab, salah satu relawan LSM Barakat menjelaskan, penerima bantuan atau bahan kebutuhan pokok yang disalurkan LSM Barakat sebanyak 2.108 jiwa yang terdiri dari lansia, ibu hamil, balita dan penyandang difable.

Bantuan-bantuan ini didistribusikan di rumah warga, kebun-kebun, posko LSM Barakat dan empat posko pengungsi yang dibangun Pemkab Lembata.

Sementara kegiatan trauma healing yang diselenggarakan LSM Barakat menyasar 1.519 jiwa. Peserta trauma healing terdiri dari lansia, balita, anak-anak, petani, orangtua dan guru. Para guru dihadirkan untuk mengajarkan anak-anak pengungsi terkait kebencanaan untuk mengurangi risiko bencana.

Dikatakannya, dalam penyaluran bantuan, Barakat terlebih dahulu melakukan asesment kebutuhan pengungsi, setelah itu baru dibelanjakan dan didistribusikan.

Sementara itu, urainya, mekanisme pendistribusian bantuan dilakukan berdasarkan data pedoman pendistribusian, untuk memudahkan pengepakan barang yang hendak didistribusikan.

Philipus Bediona, pemerhati masalah sosial di Lembata mengatakan, memperhatikan kondisi penanganan pengungsi saat ini, seakan ada anggapan berkembang bahwa pengungsian urusannya sudah selesai dan tinggal menunggu penyelesaian hunian tetap. Padahal, ada banyak urusan terkait pengungsi yang belum selesai.

Ia mengambil salah satu contoh, saat ini Pemerintah Pusat hanya membangun 700 unit rumah yang disediakan untuk lima desa terdampak di tiga tempat.

“Sepertinya konsep Pemda bahwa permukiman ada dua tahapan pembangunan, tapi bagi (Pemerintah) Pusat sudah selesai dengan berikan bantuan. Kalau Pemda mau Pusat memikirkan gelombang kedua, maka Pemda harus bicarakan serius dengan Pusat agar terlibat dalam penyiapan permukiman gelombang kedua,” tegas Bediona.

Sebab, jika penyiapan hunian tetap hanya satu gelombang, maka jelas tidak mencakup semua dalam satu desa. Hanya kategori rusak parah yang disiapkan hunian tetap. Sedangkan yang rumahnya rusak sedang dan ringan tidak. Tentu saja akan ada konsekwensinya.

“Pertanyaannya, dia masuk desa mana hunian baru nanti, apakah masuk desa asal atau masuk desa di lokasi permukiman berada. Konsekwensinya pada Pilkades, anggaran, kalau masuk desa baru maka anggaran dialokasikan ke desa baru dan desa lama berkurang karena penduduknya berkurang,” katanya.

Masyarakat yang dipindahkan, lanjutnya, sumber ekonominya berada di desa lama, tetapi kalau di desa lama lalu saat di desa baru bagaimana. Karena hunian baru yang dibangun berkonsep permukiman untuk warga kota, tidak ada halaman belakang dan samping. Padahal, bagi warga, halaman samping dan belakang penting karena jadi kebun di pekarangan dan untuk menempatkan kambing babi, dan ayam, juga untuk menanam tanaman sayur seperti marungge. Konsep itu yang perlu dipertimbangkan.

“Membangun permukiman untuk orang kampung tapi dengan konsep orang kota. Dan itu tidak realistis untuk orang desa. Pemda melalui Pak Thomas Ola harus berpikir serius, penanganan warga tersisa di desa, jika dipindahkan harus ada pembangunan baru. Adakah sisa lokasi untuk permukiman warga yang masih ada di desa. Jika tidak harus ada pengadaan baru,” tegas Bediona.

Ia bahkan menyarankan kepada Pemkab untuk menyisihkan dana Rp10 miliar dari pinjaman dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk mendukung penanganan pengungsi jika Pemkab sendiri belum mengalokasikan dana khusus untuk itu.

Dana itu, lanjutnya, nanti digunakan untuk penyiapan permukiman pengungsi dan pemberdayaan dan untuk pemberdayaan, pemerintah harus melibatkan NGO. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *